Tentang Manusia : Pertemuan, Perpisahan, dan Segala Diantaranya

No Comments »

“Everyone parts with everything eventually”
-Alice Through The Looking Glass

Perkataan ini mengingatkan saya kepada makna dari kata “Akhir”. Kata akhir akan selalu menentukan anggapan kita terhadap suatu pengalaman. Apakah pengalaman itu baik atau buruk, tergantung penutup dari pengalaman tersebut. Tidak semua skenario ‘akhir’ disukai oleh orang. Tentu kita menginginkan akhir yang bahagia. Dalam konteks hubungan antarmanusia, akhir ini berarti perpisahan. Maka, timbullah satu pertanyaan : Mungkinkah ada perpisahan yang bahagia?

Pernah suatu ketika saya mendengar seseorang berkomentar pada kepergian sanak kerabatnya “Kasihan, ya, dia.” Saya pun bingung. Apa yang perlu dikasihani? Padahal kematian itu sendiri terkadang bisa menjadi anugerah bagi seseorang. Bukankah seharusnya kepergian bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan, ketika mereka pada akhirnya bisa terlepas dari belenggu duniawi beserta segala beban, sakit, dan rutukan di dalamnya?

Ajal merupakan sesuatu yang pasti, dan tidak ada lagi hal yang bisa kita – yang akan menemuinya – lakukan. Kita hanya perlu menunggu dan menghadapinya. Lantas, apa yang perlu ditangiskan, jika ajal itu sendiri merupakan sesuatu yang memang kita tahu akan datang dan tak terhindarkan? Apa yang perlu ditangiskan, jika mereka yang pergi mungkin justru tidak merasa bersedih meninggalkan dunia ini? Bukankah seharusnya kita berbahagia untuk mereka?

Lantas, kenapa kita menangis?

Itulah yang pada awalnya membuat saya selalu beranggapan bahwa manusia, atau pada dasarnya semua makhluk hidup yang berperasaan, adalah makhluk yang egois. Tangisan kita tidak diperuntukkan untuk mereka yang pergi, tetapi untuk kita sendiri, yang ditinggalkan. Kita menangisi kepedihan yang kita rasakan karena ditinggal pergi. Kita terfokus pada diri kita sendiri. Kita menginginkan orang tersebut untuk tetap ada disini dan menjadi bagian dari hidup kita. Sedangkan, mungkin saja mereka yang pergi merasa kepergian tersebut adalah anugerah. Kita merasa pedih karena keegoisan kita yang menginginkannya untuk selalu berada di sisi kita tidak terwujud.

Namun, atas suatu peristiwa yang terjadi belakangan ini, saya kini bisa melihatnya dari sisi yang lain. Mungkin, menjadi egois itu memang bukan keinginan kita. Egoisme kita merupakan produk dari sifat alami yang dimiliki manusia dalam hubungan sosialnya dengan makhluk hidup yang lain. Ketika kita bertemu dengan seseorang, bayangkan, ada dua sukma yang berjabat tangan. Jabat tangan tersebut hanya membuat informasi mengenai dirinya menempel di otak kita. Semakin banyak kita berinteraksi, jabat tangan tersebut semakin erat. Semakin lama semakin tak terpisahkan, saling berjalin seperti simpul tali yang terikat kencang. Semua terjadi begitu saja, tanpa kuasa kita untuk mengaturnya.

Lantas, ketika simpul tersebut sudah begitu erat, dan kita harus kehilangan sebagiannya, itu sama saja seperti merusak fungsi dari tali itu sendiri. Kita merasa mendadak ada sesuatu yang dirampas dari kehidupan kita tanpa kesukarelaan. Hilang, tanpa aba-aba. Tangisan itu ternyata bukan dari keegoisan kita semata, melainkan karena sesuatu – yang  mana kita sudah terbiasa dengan keberadaannya – mendadak absen dari hidup kita. Dan kita tidak pernah dipersiapkan untuk hal tersebut. Tentunya, bagi mereka yang memiliki simpul tali yang paling eratlah yang paling merasa pedih. Namun, tak terkecuali dengan mereka yang bahkan hanya baru sempat berjabat tangan. Sekali kita bertemu dengan seseorang, tanpa harus dikomandoi kita menjalin keterikatan sukma dengannya. Tak peduli seberapa kuat. Mereka yang memiliki keterikatan hanya sebatas perkenalan pun akan merasa sedikit perih, pedih saat kehilangan sesuatu yang telah dikenalnya.

Manusia memang diciptakan untuk terluka

Saya benci untuk mengatakan ini, namun mungkin perkataan tersebut ada benarnya.Tidak ada yang meminta untuk memiliki keterikatan jiwa dengan setiap orang yang dikenalnya. Karena kita tahu imbasnya akan kepada diri kita sendiri ketika hilang. Namun, hebatnya manusia, kita mau mengambil resiko untuk merasa pedih di akhir hari, hanya untuk mencicipi buah manis dari persahabatan dan kasih sayang. Maka tangis itu menjadi wajar atas resiko yang sudah kita ambil. Tak peduli seberapa banyak waktu yang pernah kita habiskan dengan mereka yang pergi, hati kita sudah dirancang untuk terluka.

“I used to think time was a thief. But you give before you take. Time is a gift. Every minute. Every second.” -Alice Through The Looking Glass

Mungkin pernah kita membenci takdir, karena ia merampas waktu kita dengan mereka yang telah pergi. Namun, mungkin tak selamanya kita perlu begitu. Justru kita harus bersyukur bahwa takdir telah memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Waktu, adalah sebuah anugerah yang tak semua orang sadari.

Tangisan adalah hal alamiah yang kita keluarkan saat kita merasakan sakit. Waktu yang akan menyembuhkan, kata mereka. Hal itu tidak sepenuhnya betul. Karena bahkan ketika waktu sudah berlalu, akan masih selalu ada pedih yang kita rasakan saat mengingat memori dengan mereka yang telah berpulang. Karenanya, perpisahan mungkin tidak akan pernah menjadi hal yang menyenangkan. Namun, alangkah baiknya jika kita lebih menghargai dan mensyukuri waktu-waktu yang sudah kita lalui bersama mereka yang kita sayangi, yang pernah ada dalam kehidupan kita, dibandingkan dengan meratapi kesempatan yang hilang. Kita kemas dengan apik semua kebersamaan yang telah kita lalui sebagai ‘memori’. Tidak perlu khawatir, untuk waktu yang telah dicuri, mungkin suatu hari nanti akan impas kembali. Suatu saat nanti, pasti, ketika kita berjumpa lagi.


 “A tale begun in other days,
When summer suns were glowing -
A simple chime, that served to time
The rhythm of your rowing -
Whose echoes live in memory yet,
Though envious years would say 'forget.”
-Lewis Caroll, from his book ‘Alice Through The Looking Glass’


Mengenang kepergian salah seorang teman kami. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari kami. Dan akan selamanya tetap begitu. Beristirahatlah dengan tenang, Tam. Sampai jumpa.

Lord of The Flies : Cerminan Kompleksitas Hidup Manusia

No Comments »



Sudah kebiasaan saya untuk membawa satu buah novel kemana pun saya pergi, untuk mengisi waktu yang tidak produktif, misalnya ketika saya berada di kendaraan umum. Walau begitu, kadang munculnya "waktu yang tidak produktif" sangat jarang sekali (Bukan berarti saya orang yang selalu produktif. Pulang pergi menggunakan ojek, kegiatan kampus yang padat, sampai rumah langsung tidur) sehingga novel tersebut teronggok begitu saja di dalam tas saya. Karena memang tidak setiap saat saya memiliki niat besar untuk menyelesaikan sebuah novel, apalagi jika novel tersebut bukan saya yang beli dan hanya asal saya ambil dari rak buku di rumah, kecuali jika saya memang benar-benar ingin membacanya.

Salah satu korbannya adalah novel "Lord of The Flies" (1954) karangan William Golding. Dulu kakak saya yang membeli novel ini, katanya bagus, makanya saya coba baca. Novel ini baru berhasil saya selesaikan saat periode magang saya kemarin ketika liburan yang mengharuskan saya mengikuti arus pekerja ibukota, berdesakkan di KRL, sehingga ada waktu untuk membaca novel ini di tengah perjalanan pulang pergi saya setiap harinya.

Image result for lord of the flies book
Lord of The Flies bercerita tentang sekelompok anak yang terdampar di suatu pulau tak berpenghuni. Tanpa dampingan orang dewasa, mereka harus mencoba untuk bertahan hidup di pulau tersebut. Pada awalnya, mereka menemukan kebebasan yang tidak bisa ditemukan di rumah mereka di Inggris. Bermain-main seharian di pantai hingga gosong, berpetualang, hidup menyenangkan. Tak ayal, di kelompok itu pun harus ada yang mengambil peran pimpinan untuk mengatur strategi agar mereka bisa bertahan dan diselamatkan. Satu persatu masalah mulai datang. Mulai dari munculnya ancaman dari dalam hutan, dua kubu kekuatan kepemimpinan, dan semuanya perlahan merangsek masuk dan merusak 'liburan' mereka menjadi cekaman. 

Pada awalnya, memang mungkin alur cerita di dalam novel ini tidak begitu mendebarkan. Kita mungkin melihat masalah-masalah yang ada di dalam cerita sebagai masalah kecil yang tidak kompleks seperti di cerita-cerita lainnya. Konfliknya sebetulnya sederhana saja. Namun intensitas konflik ini perlahan meningkat seiring dengan berjalannya cerita. Golding terlihat dengan runut sekaligus apik menceritakan situasi di setiap ceritanya. Uniknya, ada unsur-unsur surealis dalam cerita ini, memanfaatkan metafora dalam beberapa bagian. Membuat pembacanya selalu bertanya-tanya akan arah dari cerita ini sepanjang membaca dari awal hingga akhir. Ceritanya sebetulnya sederhana, namun ketika pembaca sudah mencapai bagian akhir cerita, barulah pembaca tercengang dan seketika mendapat pemahaman dari arti filosofis dibalik cerita ini, ketika di bagian akhir ada penjelasan tambahan dari penulis yang menjelaskan setiap adegan dalam cerita yang ternyata memiliki arti tersendiri. Jika diekspresikan dengan mimik muka, membaca novel ini akan diawali dengan ekspresi datar, lalu seiring dengan berjalannya cerita akan memunculkan mimik penasaran, mimik tegang saat mendekati akhir cerita, dan kaget pada akhir bagian dari novel ini. Dilanjutkan dengan mimik wajah yang tercengang dan tenggelam dalam pikiran sendiri.

William Golding dianugerahi Penghargaan Nobel untuk Literatur pada tahun 1983, dan beliau juga sempat memenangkan The Booker Prize pada tahun 1980. Novel ini sendiri sudah berumur lebih dari setengah abad. Bahkan  sudah diangkat menjadi film layar lebar (walau saya belum pernah menontonnya) pada tahun 1990. Sudah dicetak jutaan kali dengan sampul yang berbeda-beda.

Saya sangat menyukai novel ini. Novel ini mencerminkan kehidupan manusia, dan mengingatkan kita pada sifat natural dari manusia. Novel ini berhasil meringkas tatanan sosial manusia yang begitu kompleks menjadi sebuah bacaan sederhana yang seolah menjadi cerita anak biasa. Lord of The Flies berhasil membuat saya merenung cukup lama setelah selesai membacanya, menyandingkan isinya dengan kehidupan yang saat ini kita jalani. Untuk memahami keindahan dari novel ini lebih lanjut, silahkan baca sendiri :)

Novel klasik yang sederhana, namun sarat makna dan dapat mencetuskan pemahaman serta pemikiran yang tak ada batasnya. Hormat saya kepada Sir William Golding, terima kasih telah melahirkan buku novel ini :) Saya sangat merekomendasikan novel ini kepada siapapun, menurut saya this novel is definitely a must read. Happy reading!

Critical Eleven : Sebuah Arung Jeram Rasa

No Comments »

Here we go. My first book review.

Libur kuliah kali ini mungkin adalah libur kuliah terproduktif yang pernah saya alami. Dalam arti, produktif membaca buku. Mungkin dibantu juga dengan rutinitas magang saya kali ini, sehingga saya jadi punya momen yang selalu memaksa saya untuk membaca buku untuk membunuh waktu, yaitu saat saya sedang dalam perjalanan di kereta. 

Di liburan kali ini, sebenarnya saya sudah menamatkan beberapa buku, namun saya memutuskan untuk membuat ulasan buku ini terlebih dahulu karena buku ini yang terakhir saya baca, jadi ingatan saya masih segar akan buku ini. 

Jadi, saya akan mulai dengan memberi ulasan pada buku karya Ika Natassa, Critical Eleven.

Critical Eleven bercerita tentang Ale, seorang laki-laki yang kerjaannya jadi engineer di rig lepas pantai sehingga mengharuskan  dia menghabiskan setengah hidupnya di rig dan di Jakarta, dan juga Anya, seorang perempuan yang bekerja di salah satu kantor konsultan di bilangan kota Jakarta yang kerap kali mengharuskan ia pergi ke luar negeri demi bertemu klien. Singkat cerita, terjadilah pertemuan antara mereka berdua. Namun, buku ini tidak menceritakan proses naik turun mereka hingga akhirnya jatuh cinta. Buku ini lebih menceritakan kedalaman perasaan dalam lika-liku rumah tangga mereka. Keguguran Anya menjadi penyebab awal permasalahan di antara mereka berdua.

Sebetulnya, saya bukan penggemar novel bergenre romance. Saya lebih suka novel bergenre fantasy, history, maupun sci-fi. Namun, setelah mendengar atau melihat review yang cukup baik dari teman-teman saya untuk buku ini, dan setelah saya disodorkan buku ini oleh salah seorang teman saya, so, why don't we just give it a try?

 Well, buku ini mungkin menjadi gerbang saya untuk mengenal tulisan Ika Natassa, karena buku ini adalah buku Ika Natassa yang pertama yang saya baca. Critical Eleven dipaparkan dengan alur yang menarik, dimana dengan alur yang tidak runut, Ika menyelipkan momen-momen manis antara Ale dan Anya yang menurut saya sangat berperan dalam membangun suasana cerita, dan membuat para pembaca bisa memahami serta membayangkan emosi yang dirasakan Anya maupun Ale dalam setiap ceritanya. Yang paling saya sukai mungkin adalah pembentukan karakter dari masing-masing karakter di novel ini sendiri. Seolah kita bisa mengenal setiap karakter di novel tersebut, terutama Ale dan Anya, dengan sangat baik. Dan terlebih lagi, setiap lembar cerita membangun karakter mereka dengan ketidaksempurnaannya, yang membuat cerita ini terasa lebih nyata.

Novel ini begitu apa adanya, dan kita bisa merasakan bahwa novel ini 'dekat' dengan pembaca. Ini bukan jenis cerita dengan kejadian-kejadian yang dibuat-buat. Cerita ini bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja, dan kapan saja di dalam kehidupan kita. Cerita ini mungkin sangat wajar, namun Ika menawarkan kita untuk sekali saja mencicipi bagaimana rasanya jadi "mereka" yang mengalami permasalahan tersebut, membawa kita menaiki perahu arung jeram perasaan sehingga kita bisa merasakan manisnya, pahitnya, dingin dan hangatnya setiap kejadian yang dirasakan oleh tiap karakter yang ada. Dua perspektif untuk satu kejadian dalam novel ini membawa para pembaca mengalami 'perang'nya sendiri. Di satu sisi, kita berempati dengan Anya dan bahwa Ale-lah yang salah. Namun, tak lama kemudian para pembaca akan dibuat sebal dengan karakter Anya dan balik berempati pada Ale. Begitu terus sepanjang cerita, sehingga kita tidak tahu harus memihak pada yang mana.

Bagi saya, cerita novel ini sederhana, namun berhasil dibalut dengan sangat apik sehingga berhasil menyeret perasaan para pembaca, dan membuat kita tersenyum sendiri saat selesai membacanya. Untuk kalian yang menyukai novel bergenre romance, this novel is surely worth a shot! Namun, mungkin untuk kalian yang kurang menyukai novel bergenre romance, you may not find it as amusing as others. But still, I like this book. Sederhana, namun dalam. Shout out to Ika Natassa for her Critical Eleven!

2016 dan Secangkir Kopi

No Comments »



Halo, 2017

Mungkin banyak orang yang memulai tahunnya dengan membuat resolusi tahunan. Yang mana dalam kasus saya, biasanya resolusi tahunan itu tidak akan berjalan. Tapi, saat ini saya memiliki satu hal yang ingin saya mulai dan komitmen terhadap hal tersebut : Nge-blog. Hahahaha. Blog ini sudah terbengkalai untuk waktu yang terlalu lama, dengan alasan klise, yaitu sibuk. Saya ingin mencoba kembali mengisi ruang di waktu saya dan mendedikasikan setidaknya sedikit waktu dari keseharian saya untuk menulis. I think writing would help me to develop myself, tho.

Seperti orang-orang yang lainnya juga, yang mungkin banyak menutup tahunnya dengan mengenang kejadian setahun kebelakangan, saya juga ingin melakukan hal tersebut. Banyak orang yang menyalahkan 2016 atas tindak kriminalnya dalam membawa pergi beberapa manusia kesayangan, menjadikan makhluk berkulit jingga sebagai presiden negara adidaya, Brexit, dan ketidakmampuannya untuk meredam konflik dan membungkam negativitas. 

Di luar hal itu, mungkin bagi saya 2016 adalah waktu untuk pulih. Tahun ini berlalu dengan datar-datar saja, dibalik naik turun dinamika yang harus saya lalui, namun mungkin jauh di lubuk hati saya, saya merasa....netral. Nihil. Dalam artian, kenihilan tersebut membuat saya meredefinisikan ulang segala hal, membangun dan mengkonstruksi kembali persepsi dan juga diri saya sendiri. Kembali ke titik awal. 2016 bagi saya seperti saat kita dengan kesendirian kita, hanya ditemani secangkir kopi pada sudut ruangan, dan menatap jauh ke depan. Berkontemplasi dengan diri sendiri, dengan hanya cangkir dan kopi sebagai teman bicara. 2016 memberi saya ruang untuk mengambil nafas yang dalam dan menghelanya, dari 2015 yang telah menjungkirbalikkan hidup saya. Mungkin satu hal yang saya syukuri adalah, di ahun 2016 saya menemukan Quora! Quora has become my oasis ever since. Quoran community gives you a safe haven amidst this wrecked world nowadays. I became very addicted to it, mungkin karena Quoran community yang sangat beradab dan menghormati satu sama lain. You should really try if you haven’t. 

Yup. 2016 wasn’t that bad after all.

Mungkin tahun ini, blog saya akan coba saya rutinkan isi dengan ulasan buku-buku yang telah saya baca, baik yang baru selesai maupun yang sudah saya baca sejak lama (walau ini berarti saya harus baca-baca lagi segunung buku yang sudah saya baca dulu-dulu). Mari berdoa dan wujudkan 2017 yang lebih baik untuk diri sendiri dan semua orang.
Cheers,
N

MEMORI

No Comments »

Kenapa orang-orang suka warna hitam dan putih? Mungkin, hal ini memberi kesan bahwa hal tersebut adalah hal yang terkenang dan dikenang. Kadang, di saat dunia di sekeliling bergerak begitu cepat, bahkan rasanya tak cukup kedipan mata kita untuk merekam semuanya. Kita hanya perlu waktu untuk berhenti sejenak. Tidak perlu hanya pada momen yang spesial saja. Karena, keistimewaan dari sebuah momen kadang datang dari waktu yang biasa saja. Namun, semuanya bisa jadi begitu indah. Tergantung kapan batin kita mau diam sejenak, untuk memberi ruang pada hati untuk meresapi, merekam, dan mengenang semuanya. Dan dalam hati kita berwarna hitam putih. Hitam putih yang menawan.

Beberapa waktu yang lalu, saya datang ke suatu pernikahan, dimana janji disumpahkan, jalin diikatkan, dan ikrar disematkan. Tempatnya tidak begitu luas, lebih tepatnya hanya seperti bangunan pendopo yang besar dan memiliki taman yang luas di belakang. Pernikahan ini mengusung tema semacam garden party. Saya merasa senang bisa ikut merasakan suasananya. Kadang saya bertanya-tanya, kenapa jarang sekali orang Indonesia yang mengadakan pernikahan seperti ini? Apakah kita terlalu terikat pada budaya kita yang mengundang tamu superbanyak, diadakan di gedung berlangit-langit tinggi, dengan desain pelaminan yang dipenuhi dengan cahaya dan bunga-bunga? Saya pribadi lebih suka suasana seperti ini. Didesain dengan sederhana, namun indah. Seperti ingin memberi kesan tertentu.

Tak perlu dekorasi yang kelewat indah, karena yang terindah dari hari ini adalah janji suci kita. Tak perlulah ada hal yang menandinginya, karena ikrar kita takkan tersaingi. Sehidup, semati.

 



Tak lama prosesi akad nikah dimulai, saya mendapatkan jawabannya. Matahari bersinar dengan gagahnya. Ibu-ibu yang biasa membawa kipas ke kondangan kini mendapati bahwa kipas yang tadinya hanya digunakan untuk aksesoris itu kini berguna. Keringat bercucuran. Terutama semua yang memakai baju kebaya di tengah siang bolong. Tidak lama berselang, saat prosesi akad nikah hampir selesai, mulai terasa rintik hujan yang turun. Proses penandatanganan buku nikah dilakukan dengan agak tergesa-gesa. Bahkan, kedua mempelai pun sampai tidak sempat foto banyak-banyak setelah menandatanganinya, karena hujan mulai turun cukup deras saat itu. Pada pendopo yang tidak luas tersebut, para tamu berjejalan. Kursi-kursi yang ada di taman disingkirkan, sementara gubukan makanan yang berlokasi di sekitar taman hanya pasrah ditutupi dengan plastik besar agar tidak terkena air hujan. Ya, selamat datang di negara tropis. Pupuslah keinginan para remaja Indonesia untuk menggelar pernikahan macam Edward Cullen-Bella Swan. Di tengah hutan, temaram, sakral. Di negara kita? Hutan lembab bikin berkeringat, tinggal tunggu sebentar, lalu hujan mengguyur. Gagal.

Walau suasana sempat sedikit kacau karena hujan yang mengguyur tidak sebentar, sementara harusnya setelah prosesi akad nikah langsung dilanjutkan dengan resepsi di tempat yang sama, pada akhirnya, hari itu tetap indah bagi saya. Walau tanah berumputnya menjadi becek setelah hujan, tapi hal tersebut dalam suatu kesan tertentu membuat suasana menjadi lebih hidup. Walau becek, orang-orang tetap ‘turun’ ke rerumputan, demi berfoto dengan kedua mempelai, dan juga menunggu prosesi lempar bunga yang banyak ditunggu oleh para jomblo dan juga pasangan yang ingin cepat menikah. Ini bahkan tidak seperti pernikahan pada umumnya, tapi suasananya sangat hangat. Semua nampak dekat, bahagia, tidak tergariskan jarak antara panggung pelaminan dan tamu.

Kami tidak perlu kemewahan. Perjalanan ini kami mulai dengan sederhana, yang mewah kini sudah terpatri dalam hati. Dan kami ingin membaginya dengan kalian.


Ini adalah foto kedua mempelai. Sengaja saya potret menggunakan ponsel saya dengan filter hitam-putih. Saya ingin merekam kebahagiaan mereka, dan memberikan kesan bahwa ini adalah kenangan yang begitu indah, Memang indah, kan? Lihat betapa bahagianya wajah mereka (Sengaja saya tidak menyebut nama ataupun hubungan kekerabatannya dengan saya di tulisan ini, karena saya murni ingin membuat tulisan tentang suasananya tanpa harus membawa-bawa orang yang bersangkutan)

Sore mulai menjelang. Lampu-lampu kecil yang bergelantungan melintasi udara di atas taman tersebut mulai menyala, menambah keindahan tempat itu. Warna putih yang mendominasi, bunga-bunga yang tersusun sedemikian rupa sehingga menambah estetika dekorasi tanpa berlebihan, dan alunan lagu yang bahkan tidak memutarkan lagu-lagu cinta yang sedang pasaran, hanya lagu-lagu lama dengan melodi yang indah. Semua itu menciptakan seutas senyum pada wajah saya sepanjang saya berada di tempat itu. Dan seolah ingin menggenapi itu semua, saat acara sudah berakhir, dan kedua mempelai sedang mengambil foto di taman, bagian bawah gaun putih sang mempelai wanita kini berwarna coklat, terkena becek tanah dari tempat ia berdiri sedari tadi.

Dan dia tidak peduli.

Itu momen terindah bagi saya.


JANJI

No Comments »

Sekali lagi kita beraduh gaduh dalam angan
Untuk masa yang telah tergelincir dari genggaman
Untuk lari yang lagi tak pernah sampai

Seperti abu yang bergegap menuju angkasa
Tercerai berai terbawa angin
Namun pada udara mereka berjalin

Pada suaka yang dulu kita miliki
Suatu saat kita berjanji


(Jakarta, 21/07/2016, 21:36)

Better shape

No Comments »

“Suffering has been stronger than all other teaching, and has taught me to understand what your heart used to be. I have been bent and broken, but - I hope - into a better shape.”
—Charles Dickens, "Great Expectations"