Tentang Manusia : Pertemuan, Perpisahan, dan Segala Diantaranya

“Everyone parts with everything eventually”
-Alice Through The Looking Glass

Perkataan ini mengingatkan saya kepada makna dari kata “Akhir”. Kata akhir akan selalu menentukan anggapan kita terhadap suatu pengalaman. Apakah pengalaman itu baik atau buruk, tergantung penutup dari pengalaman tersebut. Tidak semua skenario ‘akhir’ disukai oleh orang. Tentu kita menginginkan akhir yang bahagia. Dalam konteks hubungan antarmanusia, akhir ini berarti perpisahan. Maka, timbullah satu pertanyaan : Mungkinkah ada perpisahan yang bahagia?

Pernah suatu ketika saya mendengar seseorang berkomentar pada kepergian sanak kerabatnya “Kasihan, ya, dia.” Saya pun bingung. Apa yang perlu dikasihani? Padahal kematian itu sendiri terkadang bisa menjadi anugerah bagi seseorang. Bukankah seharusnya kepergian bisa menjadi suatu hal yang menyenangkan, ketika mereka pada akhirnya bisa terlepas dari belenggu duniawi beserta segala beban, sakit, dan rutukan di dalamnya?

Ajal merupakan sesuatu yang pasti, dan tidak ada lagi hal yang bisa kita – yang akan menemuinya – lakukan. Kita hanya perlu menunggu dan menghadapinya. Lantas, apa yang perlu ditangiskan, jika ajal itu sendiri merupakan sesuatu yang memang kita tahu akan datang dan tak terhindarkan? Apa yang perlu ditangiskan, jika mereka yang pergi mungkin justru tidak merasa bersedih meninggalkan dunia ini? Bukankah seharusnya kita berbahagia untuk mereka?

Lantas, kenapa kita menangis?

Itulah yang pada awalnya membuat saya selalu beranggapan bahwa manusia, atau pada dasarnya semua makhluk hidup yang berperasaan, adalah makhluk yang egois. Tangisan kita tidak diperuntukkan untuk mereka yang pergi, tetapi untuk kita sendiri, yang ditinggalkan. Kita menangisi kepedihan yang kita rasakan karena ditinggal pergi. Kita terfokus pada diri kita sendiri. Kita menginginkan orang tersebut untuk tetap ada disini dan menjadi bagian dari hidup kita. Sedangkan, mungkin saja mereka yang pergi merasa kepergian tersebut adalah anugerah. Kita merasa pedih karena keegoisan kita yang menginginkannya untuk selalu berada di sisi kita tidak terwujud.

Namun, atas suatu peristiwa yang terjadi belakangan ini, saya kini bisa melihatnya dari sisi yang lain. Mungkin, menjadi egois itu memang bukan keinginan kita. Egoisme kita merupakan produk dari sifat alami yang dimiliki manusia dalam hubungan sosialnya dengan makhluk hidup yang lain. Ketika kita bertemu dengan seseorang, bayangkan, ada dua sukma yang berjabat tangan. Jabat tangan tersebut hanya membuat informasi mengenai dirinya menempel di otak kita. Semakin banyak kita berinteraksi, jabat tangan tersebut semakin erat. Semakin lama semakin tak terpisahkan, saling berjalin seperti simpul tali yang terikat kencang. Semua terjadi begitu saja, tanpa kuasa kita untuk mengaturnya.

Lantas, ketika simpul tersebut sudah begitu erat, dan kita harus kehilangan sebagiannya, itu sama saja seperti merusak fungsi dari tali itu sendiri. Kita merasa mendadak ada sesuatu yang dirampas dari kehidupan kita tanpa kesukarelaan. Hilang, tanpa aba-aba. Tangisan itu ternyata bukan dari keegoisan kita semata, melainkan karena sesuatu – yang  mana kita sudah terbiasa dengan keberadaannya – mendadak absen dari hidup kita. Dan kita tidak pernah dipersiapkan untuk hal tersebut. Tentunya, bagi mereka yang memiliki simpul tali yang paling eratlah yang paling merasa pedih. Namun, tak terkecuali dengan mereka yang bahkan hanya baru sempat berjabat tangan. Sekali kita bertemu dengan seseorang, tanpa harus dikomandoi kita menjalin keterikatan sukma dengannya. Tak peduli seberapa kuat. Mereka yang memiliki keterikatan hanya sebatas perkenalan pun akan merasa sedikit perih, pedih saat kehilangan sesuatu yang telah dikenalnya.

Manusia memang diciptakan untuk terluka

Saya benci untuk mengatakan ini, namun mungkin perkataan tersebut ada benarnya.Tidak ada yang meminta untuk memiliki keterikatan jiwa dengan setiap orang yang dikenalnya. Karena kita tahu imbasnya akan kepada diri kita sendiri ketika hilang. Namun, hebatnya manusia, kita mau mengambil resiko untuk merasa pedih di akhir hari, hanya untuk mencicipi buah manis dari persahabatan dan kasih sayang. Maka tangis itu menjadi wajar atas resiko yang sudah kita ambil. Tak peduli seberapa banyak waktu yang pernah kita habiskan dengan mereka yang pergi, hati kita sudah dirancang untuk terluka.

“I used to think time was a thief. But you give before you take. Time is a gift. Every minute. Every second.” -Alice Through The Looking Glass

Mungkin pernah kita membenci takdir, karena ia merampas waktu kita dengan mereka yang telah pergi. Namun, mungkin tak selamanya kita perlu begitu. Justru kita harus bersyukur bahwa takdir telah memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Waktu, adalah sebuah anugerah yang tak semua orang sadari.

Tangisan adalah hal alamiah yang kita keluarkan saat kita merasakan sakit. Waktu yang akan menyembuhkan, kata mereka. Hal itu tidak sepenuhnya betul. Karena bahkan ketika waktu sudah berlalu, akan masih selalu ada pedih yang kita rasakan saat mengingat memori dengan mereka yang telah berpulang. Karenanya, perpisahan mungkin tidak akan pernah menjadi hal yang menyenangkan. Namun, alangkah baiknya jika kita lebih menghargai dan mensyukuri waktu-waktu yang sudah kita lalui bersama mereka yang kita sayangi, yang pernah ada dalam kehidupan kita, dibandingkan dengan meratapi kesempatan yang hilang. Kita kemas dengan apik semua kebersamaan yang telah kita lalui sebagai ‘memori’. Tidak perlu khawatir, untuk waktu yang telah dicuri, mungkin suatu hari nanti akan impas kembali. Suatu saat nanti, pasti, ketika kita berjumpa lagi.


 “A tale begun in other days,
When summer suns were glowing -
A simple chime, that served to time
The rhythm of your rowing -
Whose echoes live in memory yet,
Though envious years would say 'forget.”
-Lewis Caroll, from his book ‘Alice Through The Looking Glass’


Mengenang kepergian salah seorang teman kami. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari kami. Dan akan selamanya tetap begitu. Beristirahatlah dengan tenang, Tam. Sampai jumpa.

This entry was posted on Selasa, 28 Maret 2017. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply