Archive for 2015

Sebentar lagi aku pulang

No Comments »

Untukmu Rindu, 


Tunggu sebentar ya, sebentar lagi aku akan kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus aku genapi. Aku masih harus meniti tali temali yang bersilang. Ada jarum-jarum yang harus kukembalikan ke kotaknya. Ada mesin-mesin jahitan yang harus kuistirahatkan. Bahkan, harus kucek dulu keadaannya setelah kupakai terlalu lama. Sepertinya ia sudah agak rapuh. Tak apa, walau tak ada yang bisa mengganti. Masih ada kancing-kancing yang menunggu untuk dijahit pada kemeja. Kain-kain yang lepas dari gulungannya. Bekas-bekas jahitan yang tertinggal di bawah meja.  Baju-baju berlubang yang masih harus aku tambal. Semua itu masih menunggu untuk diselesaikan. Satu per satu pekerja pun akan pergi. Toh nantinya mereka juga akan ada yang mengganti. Tapi, kamu tetap tidak bisa kuganti. Makanya, aku juga bingung mengapa aku masih disini. Aku bahkan tidak digaji!


Apa kabarmu? Lama kita tidak bersua. Tapi ketahuilah, aku selalu menyimpanmu rapat-rapat di dalam hati, seberapapun tempat ini ingin merampasnya. Berita-berita tentangmu lah yang selalu membuatku bertahan. Aku selalu tahu, kamu masih ada, disana, walaupun ada jutaan lautan manusia yang bisa menggantikanku. Sebetulnya, ini bukan tentang aku, ini bukan tentang kamu. Ini tentang jalan yang berliku, yang menjadi jarak yang terbentang untuk dilalu. Tentang waktu, yang selalu mengajak kita berjibaku. Tentang cinta, yang diuji oleh realita. Kadang membuatku merasa harus memilih, haruskah aku tetap disini, atau pergi menantang angin? Jujur, aku sangat lelah disini, namun aku tidak bisa beranjak. Ada sebagian diriku yang mengikatkan aku pada tempat ini. Aku tak tahu apa. Namun bagaimanapun juga, kamu tetap selalu berada di dalam diriku.


Kalau kamu lelah menunggu, ketahuilah, aku jauh lebih lelah menanti. Menanti untuk melangkah keluar dan tak kembali. Mungkin, aku akan merindukan toko itu. Bangunan usang di ujung jalan, yang bagi mereka yang pertama memasukinya, selalu terlihat baru. Ya, pasti dengan tempat ini aku akan merindu. Tapi biarlah, biar rindu itu menyesak di dadaku, hingga ketika suatu saat nanti ketika aku menoleh kembali, toko itu tidak lagi usang. Mungkin dia akan bersinar penuh kenang, kurang lebih seperti ketika pertama aku datang. 

Sabarlah sebentar, aku pasti akan pulang. Kalau kesempatan itu datang, aku bersumpah, takkan aku buang.

Salam,
Aku.

Layang-layang

No Comments »

Dan jika kau diam, lamat-lamat akan kau dengar, suara hati kecilnya yang menangis. Entah karena apa. Karena kebencian luar biasa terhadap diri sendiri dan situasi bersanding dengan kelegaan yang diam-diam disyukuri, tak tahulah aku. 

Kini tak ada yang menahannya lagi. Bayangan yang mencengkeramnya telah hilang. Ia tidak perlu pergi atau melangkah kemana-mana, tapi ia tahu, talinya telah lepas. Dirinya telah bebas. Dia berdiri di situ, dan dia tersenyum. 

"Kini aku adalah layang-layang. Biar semua orang melihatku terbang bebas di angkasa. Walau tetap kupijakkan kakiku di dunia. Karena setidaknya kini, aku bisa melayang. Aku bisa berbalas pantun dengan awan, yang selama ini warnanya selalu membuatku bermuram durja. Kini lihatlah, cantik bukan, awan itu?"

Dan langit sore itu berwarna jingga-biru megah. 

Sudah

No Comments »

Bagaimana caranya engkau menguraikan benang kusut yang selama belasan tahun kau diamkan kusut masai begitu saja? Tidak, kamu tidak bisa. Kau berkelana ke ujung dunia, jelajah sampai pelosok dunia maya, bertanya pada tabib hingga tokoh terpandang untuk mengurai benang tersebut. Namun, ternyata siapapun tidak akan ada yang bisa mengurai benang tersebut, kecuali mengurai benang itu sendiri. Aku tidak bilang bahwa benang itu harus menjadi lurus pada malam ini juga, detik itu juga, tidak. Semua butuh proses (betul, kan?). Urailah tengahnya dulu, dan sisanya akan lebih mudah untuk diurai. Tak perlu mencari jawaban ke tempat lain. Tidak.


Malam ini aku lahir baru. Ini sisa-sisa isi lamaku kutumpahruahkan melalui tulisan ini. Biar tak bersisa lagi. Agar aku bisa menjadi diri aku sendiri lagi. Tanpa harus ada yang memaksa.

Tuhan memang menciptakan manusia dengan segala fungsinya yang mungkin tidak semua kita ketahui cara bekerjanya. Tapi untuk yang satu ini, tak perlulah kita tahu. Saat dinding yang selama ini telah kau bangun rapat-rapat mendadak runtuh dalam waktu sekejap, tak perlulah engkau tahu mengapa. Tak perlulah kau cari rahasianya. Karena yang kau tahu, dinding itu akhirnya telah runtuh, dan kau bahagia karenanya. Semua selesai. Sudah.

Untuk Yang Tersayang

No Comments »


Hari ini tanggal 4 Juni. Jadi saya bermaksud untuk mempersembahkan sebuah sajak untuk seseorang yang sangat saya sayangi. Memang kali ini bukan sajak buatan saya sendiri, namun sajak ini dengan begitu indahnya dapat merangkum perasaan saya menjadi kata-kata.


"Wishing Stars"


I still search
for you in crowds,
in empty fields
and soaring clouds

In city lights
and passing cars, 
on winding roads
and wishing stars.

I wonder where
you could be now, 
for years I've not said
your name out loud

And longer since
I called you mine--
time has passed
for you and I

But I have learnt
to live without,
I do not mind--
I still love you anyhow

-Lang Leav




Untuk yang tersayang,
Selamat ulang tahun :-)


Keluarga.

No Comments »

Keluarga bukan berarti mereka harus hidup sepanjang masa denganmu.
Keluarga bukan berarti harus memiliki ikatan darah, kesamaan bahasa, keidentikan penampilan, dan lainnya.
Tidak butuh itu semua untuk menjadi keluarga.
Dan tidak butuh atap untuk suatu tempat menjadi rumah.


Hari ini, saya mengerti perasaan para orangtua yang melepas anak-anaknya pergi merantau. Mungkin mereka merasa sedih, melepas anaknya pergi menjunjung masa depan. Namun, ada sebagian hatinya yang merasa lega, dengan keyakinan anaknya akan menemukan keluarga baru yang menemaninya di tanah sana.


Di tempat yang sama sekali baru bagiku dan bagi siapapun, kami diberi kesempatan untuk saling mengenal. Dengan satu tujuan awal, kami mulai mengenal satu sama lain dan mulai berinteraksi. Seandainya boleh menggunakan istilah "jatuh cinta" dalam pertemanan, maka, kami telah jatuh cinta satu sama lain. Menemukan sesuatu yang tidak kami sangka akan kami temukan. Sesuatu yang membuat kami terbiasa bersama hingga walaupun kami sudah tidak ada keperluan satu sama lain, kami datang dan datang lagi ke tempat yang sama, tempat kami biasa bersua, hanya demi menemukan kembali apa yang kami tinggalkan di rumah. Keluarga.




Layaknya sebuah keluarga sejati, banyak hal yang kami tempuh bersama. Dari senang, sedih, susah, keluh, kesah, sumpah serapah, itu sudah biasa. Walau terbentur waktu, walau terhalang ruang, walau menghadapi segala batasan-batasan lainnya. Dan layaknya keluarga, semua itu tak bisa menyaingi rasa yang membuat kami selalu kembali. Pada akhirnya, kami selalu kembali utuh. 




Kami sampai pada akhirnya. Akhir dari sebuah cerita yang manis. Yang membekas di hati dan kan selalu kami kenang. Mungkin kelak semua pengalaman itu hanya akan abadi dalam gambar. Mungkin kelak kami akan berpencar-pencar, melanjutkan kehidupan masing-masing dan semua yang telah dilewatkan hanya akan menjadi pecahan kenangan. Tapi, ikatan yang ada di antara kami takkan pudar. Karena kami ingat bahwa kami pernah memulai sesuatu dan melewati waktu bersama. Karena kami ingat setiap kebersamaan yang pernah kami lalui dan kita bagi. Karena keluarga takkan bisa terlupa. Dan telah kutemukan keluargaku disini.




"Ohana means family. Family means nobody gets left behind or forgotten" -Lilo and Stitch (2002)





(Terima kasih MAKER FEUI 2015 atas hampir setahunnya bekerja sama. Terima kasih telah memberi saya kesempatan untuk mengenal kalian, menjadi keluarga, dan menjadi rumah untuk berpulang selama beberapa bulan ini. Kalian akan selalu menjadi bagian yang kurindukan. Sayang kalian sampe gabisa diungkapkan oleh kata-kata:* )

Malam

No Comments »

Tidurlah, Sayang
Karena hari sudah malam
Anak hilang lah kembali dalam pelukan
Hewan terbang lah kembali dalam liang
Tinggal sudah sepi senyap
Angin berbisik dalam gelap
Membawa kisah dari nun jauh padang panjang
Untuk kembali ke peraduan

Tidurlah, Sayang
Karena hari sudah malam
Sejenak lepas sauhkan jiwa yang gelisah
Biar cair beku dalam darah
Tuk temukan jingga dalam tiap hitamnya
Tuk mengenang yang pernah dirasa
Walau tlah mati seribu asa

Tidurlah, Sayang
Karena ia sudah hilang
Dibunuh pedang panjang sang pejuang
Walau ia dulu begawan perang
Apalah artinya hilang
Jika ia datang bagai siang
Dan apalah artinya cinta

Jika tidak membutakan mata

Abu-abu

No Comments »

“Kenapa kamu kembali?”
Aku menoleh ke seluruh penjuru, berusaha mencari asal suara itu
“Kenapa kamu kembali?”
Suara itu muncul lagi. Seolah memanggilku. Walaupun aku tak tahu dia berbicara dengan siapa, tapi aku tahu kata-katanya ditujukan kepadaku. Namun aku tak membalas. Kembali apa?

              “Kenapa kamu kembali?”
              Sejurus kemudian, hening. Aku berhenti mencari. Dia berhenti berbunyi. Walau aku tak tahu pasti siapa yang aku sebut dengan “dia”. Entah darimana, tiba-tiba dia muncul di hadapanku. Sosok yang abu-abu, tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata, namun aku dapat melihatnya dengan baik. Dan entah, aku tak tahu apa yang mendorongku dan darimana pemahaman itu berasal, aku kemudian berbicara.
                “Maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk kembali. Aku tak tahu untuk apa. Tahu-tahu aku sudah disini”
                “Kau selalu begitu.”
                “......Maaf”
                “Dan kau selalu minta maaf, padahal tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau kesini bukan karena kesalahan, kau tahu itu dengan jelas. Lantas, kenapa kamu harus minta maaf?”. Hening sejenak. Sungguh, aku tak tahu apa yang membuatku mengatakan itu semua. Seolah lidahku tidak perlu lagi berkompromi dengan otak, semua kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.


“Aku tak tahu.” Akhirnya aku menjawab. Dia hanya tersenyum, entah itu senyuman iba atau senyum merendahkan. Dia begitu abu-abu, kau tidak akan bisa menafsirkan dirinya dengan jelas.

                “Itu jawaban sekaligus pertanyaan yang selalu membawamu kembali kesini, Sayang, jika kamu ingat.” Ingat? Ingat apa? Aku bahkan tak tahu aku berada dimana dan sedang apa, dan aku terlalu lelah untuk berpikir batinku. Ketika itu, dia merangkul pundakku sambil berjalan, menuntunku ke sebuah kursi taman yang, entah sejak kapan, ada di dekatnya.

                “Duduklah. Butuh waktu tidak sebentar untuk mengingat tujuanmu datang kesini. Waktu tak akan lari dari kita.” Aku diam dan menurut saja. Kucoba memusatkan pikiran terhadap alasan apa, jika memang benar ada, yang membawaku “kembali” kesini.

                “Ah, ya. Aku tahu sekarang.” Tiba-tiba aku bersuara. Entah darimana, tapi aku merasa paham dengan ini semua. Mungkin di tempat antah berantah ini, fungsi otak, hati, dan mulut sudah tidak sesuai dengan seharusnya. Campur aduk. Kini aku merasa, semua yang kupahami tidak perlu datang dari otak. Cukup mulutku saja yang berpikir.

                “Ya. Bicaralah, aku menunggu. Sebentar, biar kutebak, ini sama lagi seperti yang sebelum-sebelumnya bukan?” Dia tahu. Aku menghela nafas. Dia tahu, tapi setidaknya kini sedikit berbeda.
                “Ya, kurang lebih.”
                “Baik, jadi kali ini apa yang membuatmu datang kembali kesini? Bukankah sebelumnya kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan kembali?”

                “Memang begitu, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Dunia tempatku hidup bukanlah dunia yang stagnan. Semuanya bergerak dinamis. Aku akan selalu menyesuaikan diri dengan sekitar, kau tahu itu. Namun aku bukan bunglon. Aku tetap nyata walaupun sekitarku menyaru. Dan ketika kau menjadi seorang yang berbeda, di saat itulah semua berusaha menggoyahkanmu. Sulit, sungguh keadaan yang di luar dugaan telah menyulitkanku. Mereka berusaha membuatku saru, sama seperti mereka. Dan aku....cukup goyah. Kukira aku sudah cukup kuat. Namun ternyata aku goyah lagi.” Mataku menatap nanar ke arah kehampaan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dadaku. Mendadak, aku ingin menangis.

                “Menangislah jika perlu. Kau tidak usah menjelaskan isi hatimu untuk aku tahu. Aku disini hanya untuk membantumu kembali menemukan dirimu.”
                “Apakah aku sedang tersesat?” Aku mulai sesenggukan.
                “Tersesat itu relatif, Sayang. Pelan-pelan.” Dia berusaha menenangkan.
                “Kenapa ini begitu sulit bagiku? Padahal aku melihat yang lain mudah-mudah saja untuk menjalani hidupnya? Kenapa sepertinya hanya aku satu-satunya yang harus selalu kembali kesini?” Perlahan, aku mulai menangis, setelah menyadari ironi yang terjadi terhadap diriku sendiri.

                “Kau tahu? Mereka juga pernah selalu kembali ke sini, bahkan lebih sering dari kau. Saat itu mereka menghadapi perang yang lebih besar darimu. Tangisan mereka lebih kencang darimu. Mereka terseok-seok untuk mencari jalan keluar. Namun pada akhirnya, mereka tak pernah kembali.” Dia berhenti sejenak. “Kau juga akan seperti itu.”

                “Tapi kapan?” tanyaku lirih. Kemudian dia menghela nafas.

                “Memang, manusia diciptakan berbeda-beda. Spesies jenis kamu itu, satu diantara seribu. Kamu engga ada lelah-lelahnya datang terus kesini, berulang kali menanyakan hal yang sama, bergulat dengan kegelisahan yang sama, lalu keluar melalui pintu yang sama. Kamu itu super berani, kalau boleh kubilang. Tidak banyak manusia yang berani kembali ke sini sebanyak yang sudah kamu lakukan. Kadang mereka jadi lelah sendiri, goyah, tapi mereka tidak kembali ke sini. Mereka memutuskan untuk mengikuti arus di dunia luar sana. Pada akhirnya, mereka beradaptasi. Tapi kamu menolak itu semua, bukan? Kamu memang batu. Tapi tidak ada salahnya. Kamu adalah kamu”

                “Jadi? Jadi apa inti dari semua ini? Apa langkah yang harus aku ambil?” Kemudian timbul kesadaran dalam hatiku. Kata yang kubutuhkan untuk merefleksikan keinginanku saat ini. “Aku tidak ingin berubah. Aku ingin tetap menjadi nyata. Aku belum ingin menyerah. Aku tidak ingin. Tidak....akan” Nadaku berubah menjadi ragu.

                “Tuh, kan? Nyata itu juga relatif, Sayang. Mereka yang berubah, pada akhirnya juga menjadi nyata di jalan mereka sendiri. Tinggal kamu yang pilih jalan kamu sendiri.” Kemudian hening. Aku sudah tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia juga menunggu omonganku untuk direspon. Akhirnya aku lelah diam, dan aku bertanya lagi

                “Jadi apa kau punya saran? Saran yang bisa membawaku keluar dari sini lagi?”

                “Saran maupun jawabanku akan selalu sama dari waktu ke waktu. Sudah kubilang, aku disini hanya untuk membantumu menemukan dirimu sendiri. ­­Akan sampai pada saatnya ketika kamu memutuskan untuk beradaptasi. Namun adaptasi bukan berarti berubah. Dan perubahan tidak selalu buruk. Kamu akan mengerti ketika saat itu tiba. Tidak sekarang. Hingga saat itu tiba, tetaplah menjadi dirimu yang kamu yakini. Percayalah, hati tak pernah membohongi. Otak dan hatimu sebenarnya satu, maka belajarlah untuk menerima apa yang dikatakan hatimu.” Dia tersenyum.

                “Pada akhirnya aku akan berubah, bukan?” tanyaku lagi, nanar. Dalam hati aku sangat berharap dia akan menjawab ‘Tidak’.

                “Tidak ada yang pasti, Sayang. Segalanya relatif. Kau yang menentukan.” Lagi. Jawaban abu-abu. Tidak pasti. Tapi aku sadar, hal itu sangat wajar karena aku sedang berada di dunia abu-abu, abu-abu seperti dirinya. Sebetulnya mungkin jawaban itulah yang aku butuhkan. Mungkin ini semua sudah cukup.

                “Baiklah. Kurasa aku sudah cukup berada disini. Aku ingin pulang.”
                “Silahkan.” dia menjawab pendek.
                “Oh, ya. Satu hal lagi. Setelah ini...... aku harus kemana?”
                “Berjalan saja terus. Kau akan menemukan tujuanmu dalam perjalanan.” Dia senyum lagi. Kali ini, senyum yang meyakinkan. Membuatku merasa yakin telah menemukan jawaban.
                “Terima kasih. Aku rasa....ini tidak akan menjadi pertemuan terakhir kita.”
                “Kau yang menentukan.”

Kemudian segalanya melebur di hadapanku. Aku terbawa ke dalam bentuk kesadaran yang tidak menentu. Antara setengah sadar dan setengah tidak. Yang kutahu pasti, semua yang tadi ada di hadapanku telah menghilang, namun percakapan kami masih terus menggema dalam diriku. Sebelum aku sadar sepenuhnya, kusimpan erat semua percakapan itu dalam hatiku, kukemas menjadi sesuatu yang bernama “Keyakinan”.





(00:23, 6 April 2015, di tengah pengerjaan tugas review dan belajar untuk UTS yang tak kunjung selesai)

Terbengkalai.

No Comments »

Jadi, blog ini sudah terbengkalai untuk berapa lama?


Ritme hidup saya setahun belakangan sungguh berubah drastis. Pikiran dan raga saya bergerak sama rusuhnya. Namun, di saat raga itu berhenti, pikiran saya masih mengalir terus. Jahatnya saya, seperti biasa, saya lebih suka memendam tulisan saya dalam laptop saya sendiri. Untuk konsumsi pribadi. Walau jika saya taruh tulisan saya disini, sebenarnya di blog ini juga tidak akan ada yang baca. Namun, akhir-akhir ini, ada rasa yang mendesak saya untuk menulis lagi di blog ini. Kehidupan kuliah saya (Ya, saya sekarang sudah menjadi mahasiswa, walau belum melepas titel 'maba') membuat saya semakin sering berpikir tentang........segalanya. Terlalu banyak pikiran yang abstrak membuat otak saya penuh, dan tidak bisa menampung semuanya. Pada awalnya, saya memilih untuk menulis di jurnal pribadi. Belum berapa lama, jurnal itu sudah sering terbengkalai. Sulit, ya, ternyata, menjalankan komitmen yang harusnya untuk diri sendiri. Jadi sekarang, saya akan mencoba untuk tetap menulis di blog yang sudah lama saya buat ini. Melihat ke belakang, saya malu dengan diri saya sendiri. How childish. Tapi, setidaknya saya bersyukur karena fase itu pernah ada, dan saya bisa melihatnya lagi. Jadi, mulai saat ini, (semoga) saya akan menuangkan pikiran saya disini. Karena, aliran itu tak boleh terhambat.



"Bagiku, mengekpresikan perasaan dalam hati sama susahnya dengan mengucapkannya ke dalam bentuk kata. Walau lebih mudah sedikit, tetapi seringkali aku lupa terhadap perasaan itu dan aku tidak akan pernah lancar mengucapkannya. Maka aku memutuskan menempuh jalan orang yang tak punya nyali untuk bicara, yaitu menulis. "


"Aku akan mulai bercerita tanpa harus memulai dan tanpa harus mengakhiri. Perasaanku sama seperti asal mula air sungai itu sendiri. Setiap titik air yang ada di bumi tidak memiliki sumber yang jelas. Mereka hanya bagian dari siklus yang tak pernah bermula, tak pernah berhenti."



*kutipan di atas berasal dari tulisan saya sendiri, yang sayangnya, hanya untuk konsumsi pribadi, dan tak akan saya publikasikan kemana pun (kecuali saya berubah pikiran)


Selamat malam.