Archive for Januari 2017

Critical Eleven : Sebuah Arung Jeram Rasa

No Comments »

Here we go. My first book review.

Libur kuliah kali ini mungkin adalah libur kuliah terproduktif yang pernah saya alami. Dalam arti, produktif membaca buku. Mungkin dibantu juga dengan rutinitas magang saya kali ini, sehingga saya jadi punya momen yang selalu memaksa saya untuk membaca buku untuk membunuh waktu, yaitu saat saya sedang dalam perjalanan di kereta. 

Di liburan kali ini, sebenarnya saya sudah menamatkan beberapa buku, namun saya memutuskan untuk membuat ulasan buku ini terlebih dahulu karena buku ini yang terakhir saya baca, jadi ingatan saya masih segar akan buku ini. 

Jadi, saya akan mulai dengan memberi ulasan pada buku karya Ika Natassa, Critical Eleven.

Critical Eleven bercerita tentang Ale, seorang laki-laki yang kerjaannya jadi engineer di rig lepas pantai sehingga mengharuskan  dia menghabiskan setengah hidupnya di rig dan di Jakarta, dan juga Anya, seorang perempuan yang bekerja di salah satu kantor konsultan di bilangan kota Jakarta yang kerap kali mengharuskan ia pergi ke luar negeri demi bertemu klien. Singkat cerita, terjadilah pertemuan antara mereka berdua. Namun, buku ini tidak menceritakan proses naik turun mereka hingga akhirnya jatuh cinta. Buku ini lebih menceritakan kedalaman perasaan dalam lika-liku rumah tangga mereka. Keguguran Anya menjadi penyebab awal permasalahan di antara mereka berdua.

Sebetulnya, saya bukan penggemar novel bergenre romance. Saya lebih suka novel bergenre fantasy, history, maupun sci-fi. Namun, setelah mendengar atau melihat review yang cukup baik dari teman-teman saya untuk buku ini, dan setelah saya disodorkan buku ini oleh salah seorang teman saya, so, why don't we just give it a try?

 Well, buku ini mungkin menjadi gerbang saya untuk mengenal tulisan Ika Natassa, karena buku ini adalah buku Ika Natassa yang pertama yang saya baca. Critical Eleven dipaparkan dengan alur yang menarik, dimana dengan alur yang tidak runut, Ika menyelipkan momen-momen manis antara Ale dan Anya yang menurut saya sangat berperan dalam membangun suasana cerita, dan membuat para pembaca bisa memahami serta membayangkan emosi yang dirasakan Anya maupun Ale dalam setiap ceritanya. Yang paling saya sukai mungkin adalah pembentukan karakter dari masing-masing karakter di novel ini sendiri. Seolah kita bisa mengenal setiap karakter di novel tersebut, terutama Ale dan Anya, dengan sangat baik. Dan terlebih lagi, setiap lembar cerita membangun karakter mereka dengan ketidaksempurnaannya, yang membuat cerita ini terasa lebih nyata.

Novel ini begitu apa adanya, dan kita bisa merasakan bahwa novel ini 'dekat' dengan pembaca. Ini bukan jenis cerita dengan kejadian-kejadian yang dibuat-buat. Cerita ini bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja, dan kapan saja di dalam kehidupan kita. Cerita ini mungkin sangat wajar, namun Ika menawarkan kita untuk sekali saja mencicipi bagaimana rasanya jadi "mereka" yang mengalami permasalahan tersebut, membawa kita menaiki perahu arung jeram perasaan sehingga kita bisa merasakan manisnya, pahitnya, dingin dan hangatnya setiap kejadian yang dirasakan oleh tiap karakter yang ada. Dua perspektif untuk satu kejadian dalam novel ini membawa para pembaca mengalami 'perang'nya sendiri. Di satu sisi, kita berempati dengan Anya dan bahwa Ale-lah yang salah. Namun, tak lama kemudian para pembaca akan dibuat sebal dengan karakter Anya dan balik berempati pada Ale. Begitu terus sepanjang cerita, sehingga kita tidak tahu harus memihak pada yang mana.

Bagi saya, cerita novel ini sederhana, namun berhasil dibalut dengan sangat apik sehingga berhasil menyeret perasaan para pembaca, dan membuat kita tersenyum sendiri saat selesai membacanya. Untuk kalian yang menyukai novel bergenre romance, this novel is surely worth a shot! Namun, mungkin untuk kalian yang kurang menyukai novel bergenre romance, you may not find it as amusing as others. But still, I like this book. Sederhana, namun dalam. Shout out to Ika Natassa for her Critical Eleven!

2016 dan Secangkir Kopi

No Comments »



Halo, 2017

Mungkin banyak orang yang memulai tahunnya dengan membuat resolusi tahunan. Yang mana dalam kasus saya, biasanya resolusi tahunan itu tidak akan berjalan. Tapi, saat ini saya memiliki satu hal yang ingin saya mulai dan komitmen terhadap hal tersebut : Nge-blog. Hahahaha. Blog ini sudah terbengkalai untuk waktu yang terlalu lama, dengan alasan klise, yaitu sibuk. Saya ingin mencoba kembali mengisi ruang di waktu saya dan mendedikasikan setidaknya sedikit waktu dari keseharian saya untuk menulis. I think writing would help me to develop myself, tho.

Seperti orang-orang yang lainnya juga, yang mungkin banyak menutup tahunnya dengan mengenang kejadian setahun kebelakangan, saya juga ingin melakukan hal tersebut. Banyak orang yang menyalahkan 2016 atas tindak kriminalnya dalam membawa pergi beberapa manusia kesayangan, menjadikan makhluk berkulit jingga sebagai presiden negara adidaya, Brexit, dan ketidakmampuannya untuk meredam konflik dan membungkam negativitas. 

Di luar hal itu, mungkin bagi saya 2016 adalah waktu untuk pulih. Tahun ini berlalu dengan datar-datar saja, dibalik naik turun dinamika yang harus saya lalui, namun mungkin jauh di lubuk hati saya, saya merasa....netral. Nihil. Dalam artian, kenihilan tersebut membuat saya meredefinisikan ulang segala hal, membangun dan mengkonstruksi kembali persepsi dan juga diri saya sendiri. Kembali ke titik awal. 2016 bagi saya seperti saat kita dengan kesendirian kita, hanya ditemani secangkir kopi pada sudut ruangan, dan menatap jauh ke depan. Berkontemplasi dengan diri sendiri, dengan hanya cangkir dan kopi sebagai teman bicara. 2016 memberi saya ruang untuk mengambil nafas yang dalam dan menghelanya, dari 2015 yang telah menjungkirbalikkan hidup saya. Mungkin satu hal yang saya syukuri adalah, di ahun 2016 saya menemukan Quora! Quora has become my oasis ever since. Quoran community gives you a safe haven amidst this wrecked world nowadays. I became very addicted to it, mungkin karena Quoran community yang sangat beradab dan menghormati satu sama lain. You should really try if you haven’t. 

Yup. 2016 wasn’t that bad after all.

Mungkin tahun ini, blog saya akan coba saya rutinkan isi dengan ulasan buku-buku yang telah saya baca, baik yang baru selesai maupun yang sudah saya baca sejak lama (walau ini berarti saya harus baca-baca lagi segunung buku yang sudah saya baca dulu-dulu). Mari berdoa dan wujudkan 2017 yang lebih baik untuk diri sendiri dan semua orang.
Cheers,
N