Archive for 2013

Mungkin Hatiku Sebesar Periuk

No Comments »

Hari Selasa yang lalu, gue ga masuk sekolah, yang herannya disambut dengan sangat baik oleh nyokap gue. I'll call this "one day-off". Gila men. Kadang-kadang gue lebih sibuk dari orang kantoran kayaknya. Semester ini, babak baru buat gue. Udah mengubah gue, yang sebelumnya juga sudah berubah semenjak menjalani kehidupan SMA. I enjoyed all the things I had done. Jadi, rasanya otak gue udah mati rasa sama kegiatan yang bikin capek batin. Oiya, balik lagi ke awal. Ternyata, pas gue masuk terus ketemu pelajaran Bahasa Indonesia, gue ditagih tugas puisi. Akhirnya langsung gue kerjakan di tempat dan diserahkan ke guru 5 menit kemudian. Udah ga peduli orang mau bilang itu puisi hasil coppas internet, udah males mendebat. Dan gebleknya selama ini gue salah kaprah tentang arti kata "jelaga", jadinya menimbulkan kecurigaan tapi gue ga peduli. Yang pasti ini hasil gue sendiri, dan emang udah dari lama gue kepikiran ngebuat puisi judulnya ini, tapi emang ga sempet dan males. All thanks to pelajaran Bahasa Indonesia

Mungkin Hatiku Sebesar Periuk

Jikalau senapan batin berpelatuk
Kuyakini akan mengakhiri degup hati
sang pujangga hidup
Yang sayangnya
Pelatuk itu tak tercipta
Hingga sang pujangga
harus menahan diri
Walau tak ada jelaga
yang cukup untuk menampungnya

Jikalau hati bisa bersabda
Kuyakini celotehnya
Kan memberi kabut
Pada elok fajar
Hingga tiap ciptaan Sang Kuasa
Tak kuasa tuk meratapi diri

Mungkin hatiku sebesar periuk
Yang membentang dibawah bumi
Berdiam dan menunggu
Saat seluruh rutukan diri
Dilayangkan kepadanya
Walau tak tahu kapan 
Periuk itu akan penuh
Ia tetap bersabar dan menunggu
Sampai saat muatannya
bertumpahan, berceceran, berserakan
Walau mungkin
Saat itu takkan pernah datang

Terus ditugasin juga bikin naskah drama. Seandainya saya ga semager ini pak, pasti itu naskah sekarang udah kelar. Btw, akhir-akhir ini jadi seneng banget sama musik rock. Gatau kenapa. Atau mungkin....pengaruh dari sesuatu yang menghilang? Gue ga tau. Atau mungkin gue ga mau tahu.




"Saat air sungai menguap menjadi gumpalan awan, Lalu awan tersebut turun menjadi hujan, dan hujan itu menyatu menjadi batu. Siklus kini telah berubah. Dan alam masih menanti, pada akhirnya, apakah batu itu akan mencair, menyublim, ataupun menguap kembali. Tiada yang tahu. yang kita tahu, saat ini ia menjadi batu."

Buta Aksara

No Comments »



Hujan Di Mimpi
                                    Banda Neira

"Semesta bicara tanpa bersuara

Semesta ia kadang buta aksara

Sepi itu indah, percayalah

Membisu itu anugerah

Seperti hadirmu di kala gempa

Jujur dan tanpa bersandiwara

Teduhnya seperti hujan di mimpi

Berdua kita berlari

Semesta bergulir tak kenal aral

Seperti langkah-langkah menuju kaki langit

Seperti genangan akankah bertahan

Atau perlahan menjadi lautan

Seperti hadirmu di kala gempa

Jujur dan tanpa bersandiwara

Teduhnya seperti hujan di mimpi

Berdua kita berlari"





Burung itu berusaha bebas

No Comments »

Pernah ga lo bikin mie dikasih sambel kebanyakan, terus karena terlalu pedes, akhirnya lo coba kasih kaos tomat, terus kecap. Akhirnya rasanya jadi ga karuan. Yaa mungkin kejadian itu cuman gue doang yang ngalamin. Tapi, mungkin minggu ini, gue lah mie itu. Gue juga ga ngerti kenapa, tapi terasa semuanya dateng berbarengan, nyerang gue yang ga siap apa-apa. Rasanya semua hal yang berbeda mulai menjatuhi gue satu per satu, dan curangnya adalah, gue gabisa kabur dan pergi dari sini. Tetep gue ditinggal sendiri disini, tanpa pertolongan. Mungkin bukan tanpa pertolongan, tapi emang gue nya yang ga minta tolong. Aneh emang, gue juga ga ngerti kenapa.

"Cerita tentang Burung dan Sarang"

Seekor burung menari lincah. Diantara dahan pohon dan daun. Mencari cari akar. Untuk ditimba ke sarang
Tak lelah ia mencari. Kesana kesini. Sampai pagi. Walau anak-anaknya menanti. Terlena ia oleh duniawi. Berat, itu sungguh
Sampai akhirnya. Pun penuh sarangnya. Bahagia lah ia. Pengorbanan nya berharga
Namun. Anaknya marah memuncak. "Ma lupa. Ma lupa" Cicit mereka. Sang burung menjadi bingung. Sarang sudah dilengkapi bak surgawi. Cacing tlah banyak didapati . Tapi sang anak hanya tak paham. Mereka tak paham
Maka pergilah sang burung. Dengan hati terkatung katung. 
Sang burung mencari pohon baru untuk ditinggali. Pilihannya jatuh pada pohon indah berdaun merah muda. Ingin sekali ia tinggal disitu. Namun ternyata pohon itu tak berdahan cukup. Patah lah hati sang burung. Padahal mereka sudah saling mencinta. Burung dan pohon itu
Banyak juga pohon yang nyaman. Namun burung masih tidak tahu dan tidak mengerti. Tetap mencari lah yang lain ia.
Ada pohon yang ditemukan burung, tetapi sudah ada burung lain yang mulai membangun sarang disana.
Maka burung pergi kesana kemari tanpa arah. Mencari pohon tak bertuan. Menuju ujung yang tak berujung. Terbang tersesat ia tanpa tujuan.
Mau kemana burung? Hampir saja menyerah ia. Ditembak sajalah pemburu jika ingin. Begitu katanya. Walau nyali tidak ada.
Lalu sang burung ingat. Lagu lama yang tak pernah dikicaukan nya. Selama langit masih biru dan daun masih hijau. Langit terbuka bebas untuk dijelajahi. Perjalanan waktu tak berhenti disini. Walau sulit. Sulit sangat, memang. Tetapi burung tak berhenti terbang. Karena masih ada langit yang indah. Yang pantas untuk diperjuangkan.

Malem-malem

No Comments »

Haloo. Random post lagi malem2. Padahal besok hari Rabu yang berarti besok ada Ekonomi pelajaran pertama yang berarti gue harus belajar dan gaoleh telat. Tapi gue berakhir disini, di blog gue. Setelah surfing ke berbagai blog orang, gue mulai megeksplor blog gue sendiri. Terus gue sadar kalo gue jarang ngepost setahun blakangan. Terus pada akhirnya gue ngebuka post2 lama gue dan ketawa sendiri baca nya. Jadi inget kejadian-kejadian yang dulu udah gue lupa. Dan baru sadar betapa polos, jujur dan ceria nya gue dulu. Dan satu hal yang gue sadari. Emang people's changing, tapi, gue jadi orang yang lebih tertutup, dan lebih dewasa dari dulu. Dulu rasanya dunia gue anak kecil banget. Tapi sekarang entah kenapa gue jadi orang yang cukup filosofis dan, ya, gue sadar. Gue lebih tertutup. Dari luar emang boleh dibilang gue gila, tapi semakin kesini, makin tertutup gue. Kayak bunglon. Oke, sekian pengakuan dosa tengah malam ini. Cheers =D

There's always a place for me

1 Comment »

           Belakangan ini, membuat gue sadar. Seberapapun berbeda nya elo, uniknya elo, sendiri nya elo, lo selalu ga sendiri. Akan ada seseorang yang memiliki kesamaan dengan lo. Tergantung seberapa besar lo mau membuka diri terhadap hal-hal diluar diri lo sendiri. Akhir-akhir ini mungkin merupakan bagian keras dari hidup gue. Dan Tuhan sudah mengajari gue bagaimana cara untuk bersyukur. Kadang kita tidak sadar, tapi di titik ketidaksadaran itulah kalian akan menemukan jawaban. 
          Ga selamanya kalian sendiri. Sulit memang, tetapi selalu ada cara untuk keluar dari semua hal itu. Keluar atau tidaknya, itu merupakan pilihan. Satu pilihan bijak akan membuat segalanya berbeda. Walau terkadang bukan kita yang selalu menentukan pilihan. Dan sekali lagi, Tuhan mengajariku itu semua.


"Adakah Cara Untuk Menangis?"

Ketika duniamu tak lagi sama
Janganlah bawa dirimu sendiri
Tersesat terlalu jauh
Karena sesungguhnya
Yang diperlukan hanyalah pengertian

Jangan berlari
Yang diperlukan mimpi bukanlah pelarian
Tetapi keberanian
Dan jangan kau berkelit dengan takdir
Atau ia yang akan membelit mu

Tangisan yang tak dapat ditangiskan
adalah yang terpedih
membuatku bertanya-tanya
untuk apa ada hati
jika tak bisa berbicara?
Bukankah ini soal pilihan?

Maka ajarilah aku
Cara lain untuk mengeruk hati
Senandung lain untuk menyelimutinya
Simpul lain untuk melepas ikatannya
Kata lain untuk merangkainya

Namun jika sudah kutahu
maka boleh lah aku lepas
Karena disana kan kutemukan yang lain
Dan ku takkan tanyakan lagi
"Adakah cara untuk menangis?"


            Maaf random -_- tapi mungkin semakin kalian coba mendalami, semakin melenceng dari jawaban. Ingat, di titik ketidaksadaran itulah kalian akan menemukan jawaban :) 


who cares?

No Comments »

BOSEN YA BLOG GUE GAADA FOTO?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
bodo.