Archive for 2016

MEMORI

No Comments »

Kenapa orang-orang suka warna hitam dan putih? Mungkin, hal ini memberi kesan bahwa hal tersebut adalah hal yang terkenang dan dikenang. Kadang, di saat dunia di sekeliling bergerak begitu cepat, bahkan rasanya tak cukup kedipan mata kita untuk merekam semuanya. Kita hanya perlu waktu untuk berhenti sejenak. Tidak perlu hanya pada momen yang spesial saja. Karena, keistimewaan dari sebuah momen kadang datang dari waktu yang biasa saja. Namun, semuanya bisa jadi begitu indah. Tergantung kapan batin kita mau diam sejenak, untuk memberi ruang pada hati untuk meresapi, merekam, dan mengenang semuanya. Dan dalam hati kita berwarna hitam putih. Hitam putih yang menawan.

Beberapa waktu yang lalu, saya datang ke suatu pernikahan, dimana janji disumpahkan, jalin diikatkan, dan ikrar disematkan. Tempatnya tidak begitu luas, lebih tepatnya hanya seperti bangunan pendopo yang besar dan memiliki taman yang luas di belakang. Pernikahan ini mengusung tema semacam garden party. Saya merasa senang bisa ikut merasakan suasananya. Kadang saya bertanya-tanya, kenapa jarang sekali orang Indonesia yang mengadakan pernikahan seperti ini? Apakah kita terlalu terikat pada budaya kita yang mengundang tamu superbanyak, diadakan di gedung berlangit-langit tinggi, dengan desain pelaminan yang dipenuhi dengan cahaya dan bunga-bunga? Saya pribadi lebih suka suasana seperti ini. Didesain dengan sederhana, namun indah. Seperti ingin memberi kesan tertentu.

Tak perlu dekorasi yang kelewat indah, karena yang terindah dari hari ini adalah janji suci kita. Tak perlulah ada hal yang menandinginya, karena ikrar kita takkan tersaingi. Sehidup, semati.

 



Tak lama prosesi akad nikah dimulai, saya mendapatkan jawabannya. Matahari bersinar dengan gagahnya. Ibu-ibu yang biasa membawa kipas ke kondangan kini mendapati bahwa kipas yang tadinya hanya digunakan untuk aksesoris itu kini berguna. Keringat bercucuran. Terutama semua yang memakai baju kebaya di tengah siang bolong. Tidak lama berselang, saat prosesi akad nikah hampir selesai, mulai terasa rintik hujan yang turun. Proses penandatanganan buku nikah dilakukan dengan agak tergesa-gesa. Bahkan, kedua mempelai pun sampai tidak sempat foto banyak-banyak setelah menandatanganinya, karena hujan mulai turun cukup deras saat itu. Pada pendopo yang tidak luas tersebut, para tamu berjejalan. Kursi-kursi yang ada di taman disingkirkan, sementara gubukan makanan yang berlokasi di sekitar taman hanya pasrah ditutupi dengan plastik besar agar tidak terkena air hujan. Ya, selamat datang di negara tropis. Pupuslah keinginan para remaja Indonesia untuk menggelar pernikahan macam Edward Cullen-Bella Swan. Di tengah hutan, temaram, sakral. Di negara kita? Hutan lembab bikin berkeringat, tinggal tunggu sebentar, lalu hujan mengguyur. Gagal.

Walau suasana sempat sedikit kacau karena hujan yang mengguyur tidak sebentar, sementara harusnya setelah prosesi akad nikah langsung dilanjutkan dengan resepsi di tempat yang sama, pada akhirnya, hari itu tetap indah bagi saya. Walau tanah berumputnya menjadi becek setelah hujan, tapi hal tersebut dalam suatu kesan tertentu membuat suasana menjadi lebih hidup. Walau becek, orang-orang tetap ‘turun’ ke rerumputan, demi berfoto dengan kedua mempelai, dan juga menunggu prosesi lempar bunga yang banyak ditunggu oleh para jomblo dan juga pasangan yang ingin cepat menikah. Ini bahkan tidak seperti pernikahan pada umumnya, tapi suasananya sangat hangat. Semua nampak dekat, bahagia, tidak tergariskan jarak antara panggung pelaminan dan tamu.

Kami tidak perlu kemewahan. Perjalanan ini kami mulai dengan sederhana, yang mewah kini sudah terpatri dalam hati. Dan kami ingin membaginya dengan kalian.


Ini adalah foto kedua mempelai. Sengaja saya potret menggunakan ponsel saya dengan filter hitam-putih. Saya ingin merekam kebahagiaan mereka, dan memberikan kesan bahwa ini adalah kenangan yang begitu indah, Memang indah, kan? Lihat betapa bahagianya wajah mereka (Sengaja saya tidak menyebut nama ataupun hubungan kekerabatannya dengan saya di tulisan ini, karena saya murni ingin membuat tulisan tentang suasananya tanpa harus membawa-bawa orang yang bersangkutan)

Sore mulai menjelang. Lampu-lampu kecil yang bergelantungan melintasi udara di atas taman tersebut mulai menyala, menambah keindahan tempat itu. Warna putih yang mendominasi, bunga-bunga yang tersusun sedemikian rupa sehingga menambah estetika dekorasi tanpa berlebihan, dan alunan lagu yang bahkan tidak memutarkan lagu-lagu cinta yang sedang pasaran, hanya lagu-lagu lama dengan melodi yang indah. Semua itu menciptakan seutas senyum pada wajah saya sepanjang saya berada di tempat itu. Dan seolah ingin menggenapi itu semua, saat acara sudah berakhir, dan kedua mempelai sedang mengambil foto di taman, bagian bawah gaun putih sang mempelai wanita kini berwarna coklat, terkena becek tanah dari tempat ia berdiri sedari tadi.

Dan dia tidak peduli.

Itu momen terindah bagi saya.


JANJI

No Comments »

Sekali lagi kita beraduh gaduh dalam angan
Untuk masa yang telah tergelincir dari genggaman
Untuk lari yang lagi tak pernah sampai

Seperti abu yang bergegap menuju angkasa
Tercerai berai terbawa angin
Namun pada udara mereka berjalin

Pada suaka yang dulu kita miliki
Suatu saat kita berjanji


(Jakarta, 21/07/2016, 21:36)

Better shape

No Comments »

“Suffering has been stronger than all other teaching, and has taught me to understand what your heart used to be. I have been bent and broken, but - I hope - into a better shape.”
—Charles Dickens, "Great Expectations"

2016

No Comments »

Selamat tahun baru, hai para manusia!
Akhirnya kita sampai di tahun 2016, menurut manusia. Bukan menurut yang lain.

Waktu itu relatif. Waktu dalam persepsi manusia hanyalah cara manusia mengukur keberadaannya di dunia ini. Saat ini, kamu bisa berusia 20 tahun, 100 tahun, ataupun 5 bulan, tergantung pada takaran yang kamu gunakan. Jadi, walaupun menurut tanggalan yang dibuat manusia, sekarang sudah memasuki tahun 2016, saya tidak akan memaksa diri saya untuk berjanji akan menghasilkan lebih banyak karya pada tahun ini, pun menyesali sedikitnya karya yang saya hasilkan pada tahun lalu. Karena pada akhirnya, ini semua hanya berada pada satu rentang waktu kehidupan yang sedang kita jalani. Toh, inspirasi tidak bisa dipaksakan bukan?

Walaupun begitu, gini-gini saya juga masih manusia, dan masih hidup dalam sistem masyarakat sedemikian rumit yang menjadi pengatur kehidupan sehari-hari saya. Maka saya akan menggunakan konsep waktu buatan manusia.

Tahun 2015 merupakan tahun yang menantang. Saya dipaksa untuk mempersepsikan ulang segala hal yang saya percaya. Mengalami pertarungan dengan diri saya sendiri. Jatuh, bangun, jatuh, dan jatuh lagi. Meninggalkan bekas yang saya rasa mustahil untuk dilupakan.

Pun, saya berterima kasih atas kesempatan itu, karena mungkin tersesat adalah satu-satunya jalan untuk menemukan. Mengonstruksi ulang pola pikir dan dunia sekeliling saya. Ini dimensi yang sama yang saya lihat, namun kini nampak begitu berbeda.

Tahun baru, diri yang baru. Apakah saya siap? Tidak, kurasa kita tidak selalu harus siap. Sepertinya hidup hanya butuh kita untuk ada, dan biarkan ia membawa kita mengalir menuju hal-hal yang tak  terduga. Ternyata, untuk berpasrah pun butuh keberanian. Namun saya percaya, kemanapun kita melangkah, selalu ada kejutan yang sedang menunggu kita di depan sana, dalam satu rentang waktu kehidupan yang sedang kita jalani.

Cheers,

N.

SELAMAT MAKAN

No Comments »

Di saat orang lain mengidam makanan restoran mahal, aku justru tak bosannya menyantap makanan rumah. Dari lahir hingga kini. Makanan yang dibuat oleh Ayah dan Ibu, koki kesukaanku. Selalu ada yang baru, yang selalu kutunggu-tunggu. Digodok dengan pengetahuan dan dimatangkan dengan pengalaman. Lalu disajikannya di atas perilaku dan tutur kata.
Sarapan menjadi favoritku untuk memulai hari. Salah satu sarapan favoritku disajikan sewaktu aku berumur sembilan tahun. Ketika aku bangun pagi, aku langsung menemukan sarapanku di atas meja belajar. Menunggu untuk dicicipi. Sarapan disajikan di dalam amplop yang bertuliskan “Dari Chef Dedi”. Ayah yang buat. Kukeluarkan sarapanku, dan kutemukan sehelai kertas bertuliskan “One day, you will be old enough to start reading fairytales again. CSL.”. Dibelakangnya tergambar peta komplek rumah kami yang dibuat dengan pensil warna. Peta harta karun. Kuikuti petunjuk peta tersebut hingga ke taman di komplek kami. Lalu kutemukan lagi petunjuk yang membawaku ke rumah tetangga, dan begitu seterusnya hingga berakhir di rak buku keluargaku. Kutemukan satu benda berlapis bungkus kado berwarna merah cerah, yang berisikan satu set novel The Chronicles of Narnia karya C. S. Lewis. Salah satu novel fantasi kesukaanku hingga sekarang.
Atau saat aku berulang tahun ke-12. Sarapanku sudah terpampang jelas di tembok kamar sedari ku bangun pagi. Selembar karton bertuliskan  “Time is an illusion -Albert Einstein”. Lalu aku menemukan sebuah buku baru di atas meja belajarku. A Briefer History of Time karya Stephen Hawking. Kuhabiskan hari itu berbincang dengan Ayah mengenai konsep waktu, teori relativitas yang belum pernah kupelajari apalagi kumengerti, dan ilmu kosmologi. Tidak ada yang memberiku ucapan selamat ulang tahun hari itu. Hanya ada wajah Ibu yang senyam-senyum sepanjang hari, dan menu makanan serba spesial hadir di atas meja makan kami. Menu kesukaanku.
Kalau sarapan adalah spesialis Chef Dedi, maka makan siang adalah jagonya Chef Mami. Alias Ibu. Berbeda dengan Ayah yang suka membekaliku dengan berbagai menu favorit, Ibu terkadang suka menantangku untuk ikut memasak makan siang. Ia hanya memberi bahan utama yang harus kuolah, sisanya kubuat sendiri. Seperti saat aku sedang murung karena hujan membuatku tidak jadi pergi bersama teman-teman, Ia menyiapkan bahan untuk makan siang yang diletakkannya di dalam tudung saji di dapur. Di dalamnya kutemukan sehelai kertas bertuliskan :

Hujan.
                -Chef Mami

Walau sedang kesal, namun daripada hanya menambah rasa muram, akhirnya kuterima tantangan itu. Sejurus kemudian, sajak yang telah kubuat kutaruh di atas meja makan, lalu kutinggal tidur. Esoknya, kertas sajak tersebut telah hilang. Berganti buku sastra yang baru.
Ibu mengenalkanku pada sastra dan indahnya berbahasa. Ia selalu berkata “Bahasa Indonesia adalah bahasa yang lahir prematur. Namun dalam keterbatasannya, kita dapat temukan keindahan tersembunyi”. Ibu juga sering memberiku buku kumpulan sajak seperti Hujan di Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono, Tripitakata karya Sitok Srengenge, maupun kumpulan sajak yang ia jilid sendiri berisikan karya para sastrawan lawas seperti Rosihan Anwar dan Chairil Anwar. Ia yang juga mengenalkanku pada novel-novel mahakarya negeri milik Dewi Lestari, Andrea Hirata, Laksmi Pamuntjak, dan juga penyair maupun novelis mancanegara.
Makan malam. Waktunya aku yang menjadi koki. Waktu dimana aku mengolah bahan yang sudah kudapat dari keseharianku. Dari hasil coba-coba, aku membuat makan malam untuk keluarga yang  disajikan di atas piring cerita. Seringkali rasanya enak. Di lain waktu, rasanya asam, terlalu asin, atau bahkan terlampau manis. Mereka dengan takzim mendengarkan celotehanku, dan selalu memberi tanggapan untuk setiap racikan yang dirasa kurang pas. Memang rasanya tidak selalu enak, tapi mereka selalu ada untuk membantuku mengatasi masalahku.
Apapun rasa yang kuhasilkan dari masakanku, Ayah dan Ibu selalu mendukungku. Mereka kerap memujiku agar aku memiliki pribadi yang positif dan pantang menyerah. Seperti ketika aku melukis hewan untuk tugas pelajaran seni sekolah. Ayah bilang aku bisa jadi the next Frida Kahlo. Padahal gambar kucingku saja hasilnya lebih mirip dengan kambing.
Makanan buatan Chef Dedi dan Chef Mami pun tidak selalu enak. Kadang makanan yang mereka buat adalah ocehan panjang lebar yang harus kutelan bulat-bulat saat aku terlalu banyak mengeluh. Atau aksi diam Ibu kepadaku ketika aku pergi tanpa kabar. Tapi yang paling tidak kusukai adalah saat keduanya bertengkar, tidak sepaham, simpang jalan. Rasanya tidak enak sekali, aku jadi ingin menangis.
Makanan adalah nutrisi utama bagi tubuh manusia. Aku anak yang beruntung, memiliki dua chef handal yang memberiku nutrisi lengkap dan bergizi untukku. Mereka memang bukan chef yang sempurna. Namun bagiku mereka adalah chef yang terbaik.
Kini aku tahu bumbu rahasia yang membuat makanan rumahku terasa lezat. Makanan terbaik adalah yang dibuat dengan kasih sayang. Dan kasih sayang itu akan selalu kutemukan di rumah.