Layang-layang

Dan jika kau diam, lamat-lamat akan kau dengar, suara hati kecilnya yang menangis. Entah karena apa. Karena kebencian luar biasa terhadap diri sendiri dan situasi bersanding dengan kelegaan yang diam-diam disyukuri, tak tahulah aku. 

Kini tak ada yang menahannya lagi. Bayangan yang mencengkeramnya telah hilang. Ia tidak perlu pergi atau melangkah kemana-mana, tapi ia tahu, talinya telah lepas. Dirinya telah bebas. Dia berdiri di situ, dan dia tersenyum. 

"Kini aku adalah layang-layang. Biar semua orang melihatku terbang bebas di angkasa. Walau tetap kupijakkan kakiku di dunia. Karena setidaknya kini, aku bisa melayang. Aku bisa berbalas pantun dengan awan, yang selama ini warnanya selalu membuatku bermuram durja. Kini lihatlah, cantik bukan, awan itu?"

Dan langit sore itu berwarna jingga-biru megah. 

This entry was posted on Rabu, 29 Juli 2015. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply