Sebentar lagi aku pulang

Untukmu Rindu, 


Tunggu sebentar ya, sebentar lagi aku akan kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus aku genapi. Aku masih harus meniti tali temali yang bersilang. Ada jarum-jarum yang harus kukembalikan ke kotaknya. Ada mesin-mesin jahitan yang harus kuistirahatkan. Bahkan, harus kucek dulu keadaannya setelah kupakai terlalu lama. Sepertinya ia sudah agak rapuh. Tak apa, walau tak ada yang bisa mengganti. Masih ada kancing-kancing yang menunggu untuk dijahit pada kemeja. Kain-kain yang lepas dari gulungannya. Bekas-bekas jahitan yang tertinggal di bawah meja.  Baju-baju berlubang yang masih harus aku tambal. Semua itu masih menunggu untuk diselesaikan. Satu per satu pekerja pun akan pergi. Toh nantinya mereka juga akan ada yang mengganti. Tapi, kamu tetap tidak bisa kuganti. Makanya, aku juga bingung mengapa aku masih disini. Aku bahkan tidak digaji!


Apa kabarmu? Lama kita tidak bersua. Tapi ketahuilah, aku selalu menyimpanmu rapat-rapat di dalam hati, seberapapun tempat ini ingin merampasnya. Berita-berita tentangmu lah yang selalu membuatku bertahan. Aku selalu tahu, kamu masih ada, disana, walaupun ada jutaan lautan manusia yang bisa menggantikanku. Sebetulnya, ini bukan tentang aku, ini bukan tentang kamu. Ini tentang jalan yang berliku, yang menjadi jarak yang terbentang untuk dilalu. Tentang waktu, yang selalu mengajak kita berjibaku. Tentang cinta, yang diuji oleh realita. Kadang membuatku merasa harus memilih, haruskah aku tetap disini, atau pergi menantang angin? Jujur, aku sangat lelah disini, namun aku tidak bisa beranjak. Ada sebagian diriku yang mengikatkan aku pada tempat ini. Aku tak tahu apa. Namun bagaimanapun juga, kamu tetap selalu berada di dalam diriku.


Kalau kamu lelah menunggu, ketahuilah, aku jauh lebih lelah menanti. Menanti untuk melangkah keluar dan tak kembali. Mungkin, aku akan merindukan toko itu. Bangunan usang di ujung jalan, yang bagi mereka yang pertama memasukinya, selalu terlihat baru. Ya, pasti dengan tempat ini aku akan merindu. Tapi biarlah, biar rindu itu menyesak di dadaku, hingga ketika suatu saat nanti ketika aku menoleh kembali, toko itu tidak lagi usang. Mungkin dia akan bersinar penuh kenang, kurang lebih seperti ketika pertama aku datang. 

Sabarlah sebentar, aku pasti akan pulang. Kalau kesempatan itu datang, aku bersumpah, takkan aku buang.

Salam,
Aku.

This entry was posted on Selasa, 27 Oktober 2015. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply