Mungkin Hatiku Sebesar Periuk

Hari Selasa yang lalu, gue ga masuk sekolah, yang herannya disambut dengan sangat baik oleh nyokap gue. I'll call this "one day-off". Gila men. Kadang-kadang gue lebih sibuk dari orang kantoran kayaknya. Semester ini, babak baru buat gue. Udah mengubah gue, yang sebelumnya juga sudah berubah semenjak menjalani kehidupan SMA. I enjoyed all the things I had done. Jadi, rasanya otak gue udah mati rasa sama kegiatan yang bikin capek batin. Oiya, balik lagi ke awal. Ternyata, pas gue masuk terus ketemu pelajaran Bahasa Indonesia, gue ditagih tugas puisi. Akhirnya langsung gue kerjakan di tempat dan diserahkan ke guru 5 menit kemudian. Udah ga peduli orang mau bilang itu puisi hasil coppas internet, udah males mendebat. Dan gebleknya selama ini gue salah kaprah tentang arti kata "jelaga", jadinya menimbulkan kecurigaan tapi gue ga peduli. Yang pasti ini hasil gue sendiri, dan emang udah dari lama gue kepikiran ngebuat puisi judulnya ini, tapi emang ga sempet dan males. All thanks to pelajaran Bahasa Indonesia

Mungkin Hatiku Sebesar Periuk

Jikalau senapan batin berpelatuk
Kuyakini akan mengakhiri degup hati
sang pujangga hidup
Yang sayangnya
Pelatuk itu tak tercipta
Hingga sang pujangga
harus menahan diri
Walau tak ada jelaga
yang cukup untuk menampungnya

Jikalau hati bisa bersabda
Kuyakini celotehnya
Kan memberi kabut
Pada elok fajar
Hingga tiap ciptaan Sang Kuasa
Tak kuasa tuk meratapi diri

Mungkin hatiku sebesar periuk
Yang membentang dibawah bumi
Berdiam dan menunggu
Saat seluruh rutukan diri
Dilayangkan kepadanya
Walau tak tahu kapan 
Periuk itu akan penuh
Ia tetap bersabar dan menunggu
Sampai saat muatannya
bertumpahan, berceceran, berserakan
Walau mungkin
Saat itu takkan pernah datang

Terus ditugasin juga bikin naskah drama. Seandainya saya ga semager ini pak, pasti itu naskah sekarang udah kelar. Btw, akhir-akhir ini jadi seneng banget sama musik rock. Gatau kenapa. Atau mungkin....pengaruh dari sesuatu yang menghilang? Gue ga tau. Atau mungkin gue ga mau tahu.




"Saat air sungai menguap menjadi gumpalan awan, Lalu awan tersebut turun menjadi hujan, dan hujan itu menyatu menjadi batu. Siklus kini telah berubah. Dan alam masih menanti, pada akhirnya, apakah batu itu akan mencair, menyublim, ataupun menguap kembali. Tiada yang tahu. yang kita tahu, saat ini ia menjadi batu."

This entry was posted on Minggu, 05 Mei 2013. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

Leave a Reply