Saat Kau Pergi, Wahai Papa

Saat kau pergi, Wahai Papa


Tulisan ini bukan puisi, melainkan surat atau kata-kata yang kiranya sangat ingin kusampaikan...jika ku bisa


Saat kau masih ada, pa
Duniaku bahagia
Seakan akulah putri yang paling bahagia di dunia
Tak ada rasa takutku kehilanganmu
Karena menurutku,
Dengan keberadaanmu disisiku
Kau tak akan pergi meninggalkanku
Begitu saja

Saat kau pergi, pa
Duniaku runtuh
Hanya dalam hitungan detik
Betul betul baru kurasakan
Otak dan hatiku kosong
Betul betul baru kurasakan
Sedih yang amat sangat mendalam
Berharap seseorang dapat membawaku
Ketempatmu berada
Sekarang

Saat kulihat jasadmu, pa
Masih bisa kubayangkan
Kau tersenyum kepadaku
Saat kusentuh tanganmu
Dingin, dingin sekali
Tapi masih bisa kurasakan
Hangat tanganmu yg besar
Dulu, sering menggenggam tanganku
Saat kulihat wajahmu,
Ah! Kulihat wajahku juga
Saat kubelai rambutmu
Kutahu ini untuk yg terakhir kalinya
Saat aku diberi giliran untuk berbicara kepadamu,
Aku mengatakan '' papa belum lihat nindy jadi dokteer''
Kadang aku tertawa teringat hal itu
Jangankan menjadi dokter,
kau bahkan tidak melihatku
Saat mewakili teman2 memberikan pidato perpisahan saat sd
Semua menitikkan air mata
bahkan, aku juga
Air mata tak mau berhenti mengalir
Aku pun tak tahu mengapa

Rasa sedihku mengalahkan segalanya
Lapar pun tak kurasa
Kupandangi wajahmu
Wajah yang setiap hari
Selalu menyapa pagiku
Wajah yg selalu terjaga
Dikala ku sakit
Wajah yg selalu
Mengajarkanku hal2 yg belum kuketahui
Bayangkan jika wajah-wajah itu sirna
Tidak, tidak
Hal itu tak bisa
Dan takkan terbayang olehku

Bukan ku tak merelakanmu, pa
Hanya, kau belum mengajarkanku
Rasanya kehilangan
Lalu kusadari
Mungkin inilah caramu
Mengajarkanku rasanya kehilangan

Hari2 ku kembali
Ya, kembali
Kujalani tanpamu.
Sering kuberpikir
''ah, takkan kuat aku hidup tanpamu''
Nyatanya, aku masih hidup
Tapi, kurasakan ganjalan yang tak pernah hilang.
Selamanya.
ini...ini berbeda
Dengan saat berita itu
Sampai di telingaku
Untuk pertama kalinya

Aku menangis.
Ya menangis.
Tetapi, akupun tak tahu untuk apa.
Saat itu, aku merasa
Benar2 tidak ada yang terjadi
Saat itu
''meninggal'' hanyalah sebuah kata
yang melintas di pikiranku
Hingga ku menangis

Tetapi, berhari hari setelah Itu
Baru kusadari hidupku hilang
Panutanku menghilang
Sahabat ku menghilang
Guruku, Penjagaku, Pahlawanku,
Menghilang
Ayahku menghilang.

Sekarang,
3 tahun setelah kau pergi, pa
Aku bahagia
Putrimu kembali bahagia
Diantara kebahagiaan itu
Kutahu ada satu yang kurang
Tapi, biarlah itu berlalu
Ku tak mau membangunkan kenangan lama
Walau kutahu kenangan itu selalu terjaga dalam memori ku

Tiba-tiba
Bangkitlah rasa takutku
Yang amat mendalam
Bukan kematian
Tidak, aku tidak takut akan kematian
Kutahu cepat atau lambat dia akan segera mendatangiku
Tapi, yang kutakutkan adalah
Aku akan melupakanmu
Ku takut aku takkan menghiraukan memori bersamamu lagi
Bahwa kau pernah ada di dunia ini
Tapi tentu takkan kubiarkan hal itu terjadi

Sekarang, memori tinggal memori
Saat kau olahraga lari sekeliling rumah
saat kau mengajariku tentang bagaimana manusia bisa terlahir
Saat kau membelikanku plastisin untuk prakarya, dan aku tidak menunjukkan tangisku didepanmu karena plastisinnya kurang
Saat kita menaiki tangga bersama, dan kucemaskan keadaan jantungmu
Saat kau menggendongku di pundak, berenang bersama, mencubit pipiku, bermain piano dan gitar

Senyummu, tawamu, lambaianmu, larimu, punggungmu, tatapan matamu, tidurmu, gaya berbicaramu, cara makanmu, seluruh gerak gerikmu, semuanya, SEMUANYA!!!!

Kurindukan selalu
Telah tertanam semua dalam memori panjangku
Takkan terlupa

Rasa cinta dan sayangku padamu rasanya tak perlu kusampaikan lagi
Kau sudah tahu itu
Ucapan selamat tinggal sudah berulangkali kuucapkan, dulu
Sekarang, aku hanya menunggu
Terus menunggu
Sampai saat nya Yang Maha Kuasa memanggilku
Menarikku ke alam mu
Agar kubisa bertemu denganmu lagi
Suatu saat nanti
Wahai, Papa ku tercinta <3



tulisan ini ku dedikasikan untuk papa ku, Alm. Yunizar Alie
Semoga kiranya kau dapat membaca tulisan ini.
Somewhere, Somehow..................

This entry was posted on Senin, 30 Agustus 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response.

2 Responses to “Saat Kau Pergi, Wahai Papa”